Selamat Datang di Blog Saya
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

AWAS….!!!! SYIAH DI SEKITAR KITA



Syi’ah bukan saja secara akidah berbeda dengan Islam sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi mempunyai paradigma yang menyesatkan.
Pengikut Syi’ah memandang Imam itu ma’shum ( terbebas dari dosa ). Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri, karena yang ma’shum hanyalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga memandang bahwa menegakkan kepemimpinan, pemerintahan (imamah) adalah rukun agama. Kalangan Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait. Mereka juga tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.n

Pengikut Syi’ah menghalalkan nikah mut’ah (kawin kontrak) yang sudah diharamkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Penganut paham Syi’ah menggunakan senjata taqiyyah yaitu berbohong, dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk mengelabui masyarakat, dan taqiyyah akan digunakan jika mereka merupakan kaum minoritas di lingkungannya. (Al-Kulaini, Al-Kafi fil Ushul, juz II hal 217).n

Syi’ah percaya kepada Ar-Raj’ah ( Reinkarnasi ), yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum Kiamat di kala Imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.  (Biharul Anwar 8/ 363, dan al-I’tiqadaat lil-Majlisi halaman 100). Keyakinan Raj’ah ini sama seperti keyakinan yahudi dan nashrani bahkan orang-orang musyrik seperti hindu dan budha yang jauh lebih tua dari yahudi dan nashrani.
Aliran Syi’ah ini muncul sejak zaman Ali bin Abi Thalib ra, 37 H.

Lafal Syi’ah ( pendukung ) dikaitkan pada golongan orang-orang yang memihak atau menyokong kekhalifahan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya, dan menetapkan bahwa para khalifah sebelumnya adalah tidak sah.  Ketiga sahabat Nabi yang terdahulu mereka kutuk sebagai perampas kekhalifahan Sayidina Ali, yang demikian itu bertentangan dengan faham Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, tentang Khulafaur Rasyidin.
Sejarah mencatat bahwa biang keladi dari timbulnya golongan Syi’ah seperti yang dikenal sekarang adalah: Abdullah bin Saba’ laknatullah, seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam pada tahun 35 H namun tujuannya merusak islam dari dalam.  (Drs. Shodiq SE, Kamus Istilah Agama, CV Sientarama Jakarta, cetakan II, 1988, halaman 324).

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, pangkal perkataan syiah rafidhah adalah:
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menentukan Ali (mengangkatnya sebagai orang yang berhak menggantikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) dengan ketentuan pasti, dan ia (Ali) adalah imam yang ma’shum (terjaga dari dosa).  Barangsiapa menyelisihinya maka kafir.  Orang-orang Muhajirin dan Anshar telah menyembunyikan ketentuan (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) itu dan kafir terhadap imam yang ma’shum itu, mengikuti hawa nafsu dan mengganti agama, mengubah syari’at, dzhalim, melampaui batas, bahkan mereka (para sahabat itu) telah kafir kecuali sedikit orang, boleh jadi belasan atau lebih.  Kemudian orang Rafidhah/ Syi’ah berkata: Sesungguhnya Abu Bakar, Umar dan semacamnya senantiasa munafik.
Kadang mereka (Syi’ah) berkata: Bahkan mereka (Abu Bakar dan lainnya) beriman lalu kafir alias murtad. subhanallah

Kebanyakan orang Syi’ah mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka, dan menamakan diri mereka sendiri mu’min, siapa yang menyelisihi mereka adalah kafir. (Ibnu Taimiyah, Al-Fatawa, 3/356).
Padahal Allah subhanahu wata’ala saja memuji para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١٠٠)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang- orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.  Itulah kemenangan yang besar. (QS At-Taubah: 100)

Syekh Muhammad At-Tamimi menjelaskan: Syi’ah -yang benar adalah sebutan Rafidhah (yang ditolak, asli kata itu artinya yang menolak, tetapi maksudnya adalah yang ditolak, pen) karena pengelompokan mereka kepada Ali bin Abi Thalib ra adalah pengelompokan yang ekstrim keterlaluan, ditolak oleh Ali ra. Syekh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Iqtidho’us shirothil mustaqiem mukholafafatu ash-haabil jahiim, halaman 391, berkata: Sesungguhnya Rafidhoh/ Syi’ah adalah kelompok paling dusta dari kalangan ahlil ahwa’ (pengikut hawa nafsu), paling besar kemusyrikannya, maka tidak ada pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dibanding mereka, dan tidak ada yang lebih jauh dari Tauhid (melebihi mereka). [1]
Orang Syi’ah yang ghuluw/ ekstrim pimpinan Abdullah bin Saba’ (pendeta Yahudi yang masuk Islam 35 H) sampai menuhankan Ali bin Abi Thalib, mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib ra itu sendiri karena keyakinannya yang menyimpang. (lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 2, halaman 775).  Terdapat tiga sekte utama dalam Syi’ah:

Syi’ah Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah) yaitu sekte Imam Dua belas, yang merupakan golongan terbesar dan dijumpai terutama di Irak dan Iran. dan fakta menunjukkan bahwa sekarang syiah imamiyah lah yang ada, termasuk kasus suriah, merekalah biang keladinya yang sampai memakan korban ribuan bahkan jutaan nyawa kaum muslimin baik laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan anak-anak, mereka membantainya dengan sadis. walyadzubillah

Syi’ah Sab’iyah, yaitu sekte Imam Tujuh, yang juga dikenal sebagai Isma’iliyah, karena menuntut Isma’il sebagai Imam ke-tujuh.

Syi’ah Zaidiyah, yaitu sekte Syi’ah kecil, yang lama kelamaan mendekati kaum Sunnah (sekarang hidup di Yaman). [2]

Kini Syi’ah Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah) menyebar ke segala penjuru dunia, termasuk Indonesia.  Mereka mempercayai adanya 12 Imam keturunan Ali yang dianggap ma’shum (terjaga dari dosa).  Padahal yang ma’shum itu hanya Nabi.  Perkataan Imam dianggap sama dengan perkataan Nabi.  Syi’ah Imamiyah itu masuk ke Indonesia setelah revolusi Iran 1979. Sampai 1993 pun Jalaluddin Rakhmat di Bandung yang sudah sangat dikenal oleh ulama Syi’ah seperti Syaikh Taskhiri di Iran,namun Jalal masih mengaku SUSI, Sunnah - Syi’ah.

Belakangan, tahun 2000 kala Gus Dur jadi presiden barulah didirikan apa yang mereka sebut Ijabi (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia) dengan alasan mumpung presidennya Gus Dur.  Sedang penyiaran kesyi’ahannya dibungkus-bungkus lewat jalur tasawuf, baik lewat buku karangan, pendidikan, maupun pengajian. Di antaranya Jalaluddin merangkul anak bekas wakil Presiden di masa lalu untuk mengembangkan Syi’ah lewat tasawuf.

Orang-orang seperti Alwi Shihab, Quraish Shihab, Haidar Bagir dan semacamnya merupakan jalur yang sering orang sebut sebagai dekat dengan Syi’ah, hingga Quraish Shihab yang punya rubrik tanya jawab Agama Islam di koran Republika waktu lalu mengambil kesempatan untuk mengemukakan bahwa Sunni dengan Syi’ah hanya beda masalah politik.  Modal taqiyyah (menyembunyikan keyakinan yang asli) rupanya diamalkan pula olehnya, sambil mengeliminir masalah.

Di samping itu Syi’ah punya “modal” nikah mut’ah yang konon salah satu hal yang menarik bagi para pengumbar syahwat, di antara mereka kalangan muda dan mahasiswa.  Entah pula yang lainnya.  Karena sikap ghuluw (ekstrimnya) hingga menuhankan Imam mereka dan keekstriman-keekstriman lainnya, maka Imam Ibnu Taimiyyah menyebut orang Syi’ah atau Rafidhah itu sebagai pengikut hawa nafsu (ahlul ahwa’) yang paling sesat, dan paling jauh dari Tauhid.

Gerakan Syi’ah di Indonesia sudah sedemikian pesat, bukan saja karena kegigihan para misionarisnya, tetapi juga karena ketidak-tegasan pemerintah dan MUI, serta masih banyaknya umat Islam awam yang tidak kritis serta mudah terpesona oleh tampilan luar para penjaja aliran sesat ini. Lembaga misionaris Syi’ah menggunakan berbagai macam nama antara lain Ahlul Bait, Muthahhari, Muntazar, Mulla Shadra, Madinatul Ilmi, Babul Ilmi, dan sebagainya. Belakangan ada kelompok IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia), ABI (Ahlul Bait Indonesia), dan ada juga apa yang disebut Muhsin. IJABI dan Muhsin dikhabarkan mengedarkan undangan peringatan Maulid Nabi, Februari 2012 di Jakarta dengan yang tercantum sebagai pembicara adalah Said Aqil Siradj dan Din Syamsuddin, masing-masing dikenal sebagai ketua umum NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah. Padahal di Indonesia sedang ramai dan memanas suasananya akibat peristiwa Syiah di Sampang yang menyebarkan 22 kesesatan hingga terjadi bentrok 29 Desember 2011. Kemudian MUI Sampang memfatwakan Syi’ah itu sesat. Demikian pula MUI Jawa Timur memfatwakan, syiah itu sesat. Dan kemudian mereka mendesak MUI Pusat dengan hadir ke kantor MUI Pusat untuk memfatwakan syiah itu sesat.

Paham Syi’ah yang paling ekstrem adalah mengkafirkan para Sahabat (kecuali ‘Ali bin Abi Thalib ra). Ada juga yang dalam bentuk lain, cenderung kepada penganut Syi’ah yang lebih lunak, namun umumnya mereka mengkombinasikan ajarannya dengan tarekat atau tasawuf yang kalau dikaji banyak hal yang belum tentu sesuai dengan Islam.

Fakta di lapangan ditemukan, ada sejumlah yang berpaham Syi’ah ekstrem, tidak saja mengkafirkan Khulafa ur Rasyidin (minus ‘Ali ra), tetapi mengajarkan kepada muridnya untuk mengutuk Ummul Mukminin ‘Aisyah ra karena itu menurut kepercayaan sesat mereka merupakan ibadah.

Majalah Sabili memberitakan, aliran Syi’ah yang mengkafirkan sebagian sahabat Nabi ini terus bergeliat. Di Jawa Timur, gerakan Syi’ah cukup berkembang pesat. Mereka tergabung dalam IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia). IJABI telah mendapatkan pengikut yang cukup banyak. Komunitas mereka tersebar di beberapa wilayah seperti Surabaya, Bangil, dan Malang.

Di Bangil, mereka memiliki pesantren sendiri yang diberi nama YAPI (Yayasan Pesantren Islam) al-Ma’hadul Islami. Pesantren YAPI memiliki dua kampus, untuk putra dan putri. Jenjang pendidikan SMP-SMA dengan metode boarding school atau pondokan. Segala macam ilmu Islam dipelajari di sini, terutama yang berhubungan dengan Syi’ah.

Di Surabaya, selain aktif menyelenggarakan kajian di rumah-rumah, dakwah IJABI juga merambah dunia perguruan tinggi. Seolah ingin melanjutkan kesuksesan lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah di Malang dan Bangil, mereka masuk ke kampus-kampus. Unair salah satunya.
Sekitar tahun 2000, IJABI mulai masuk Unair. Tidak sulit memang bagi Syi’ah masuk dunia perguruan tinggi, karena kebanyakan mereka dari kalangan akademisi dan intelektual. Di Unair pula IJABI mendirikan IIC (IJABI Intelektual Community), yang diketuai oleh Hery Abdillah. (Sabili, 3 Muharram 1429 H, halaman 24).

Di Medan didirikan markas Syi’ah pula beberapa tahun lalu, diketuai mahasiswa dari IAIN Medan. Peresmian markas aliran sesat itu, menurut seorang anggota MUI Medan, dengan menghadirkan petinggi Syi’ah dari Iran.

Geliat aliran sesat Syi’ah juga merebak di Samarinda. Setelah mereka tampak sukses menghadirkan Quraish Shihab dari Jakarta maka acara di hotel diselenggarakan pada periode berikutnya dengan menghadirkan tokoh Syi’ah dari luar negeri. Ketika seorang ustadz mengkhutbahkan bahwa Syi’ah itu sesat, sebagian umat Islam masih belum faham. Padahal Syi’ah itu sampai berkeyakinan bada’, yaitu Allah dianggap punya sifat tidak tahu apa yang akan terjadi. Itu jelas sesat. Berbagai kesesatan ada pada Syi’ah, sehingga aliran itu sangat banyak jumlahnya, sebagian benar-benar sudah keluar dari Islam, bahkan dihukum bakar oleh Khalifah Ali ra karena menganggap dalam diri Ali  ada ketuhanannya. Makanya Imam Ibnu Taimiyah menyebut, Syi’ah itu aliran yang sangat jauh sesatnya, sangat jauh dari Tauhid. Hingga Imam Ibnu Taimiyah menulis kitab 8 jilid, Minhajus Sunnah, untuk membeberkan betapa jauhnya kesesatan Syi’ah.
Sumber: http://sunnahismylife.blogspot.com/2013/07/awas-syiah-di-sekitar-kita.html

APA ITU ISLAM…?

   1. Pengertian Islam

Islam secara etimologi (bahasa) berarti tunduk, patuh, atau berserah diri. Adapun menurut syari’at (terminologi), apabila dimutlakkan berada pada dua pengertian:

Pertama: Apabila disebutkan sendiri tanpa diiringi dengan kata iman, maka pengertian Islam mencakup seluruh agama, baik ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), juga seluruh masalah ‘aqidah, ibadah, keyakinan, perkataan dan perbuatan. Jadi pengertian ini menunjukkan bahwa Islam adalah mengakui dengan lisan, meyakini dengan hati dan berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla atas semua yang telah ditentukan dan ditakdirkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang Nabi Ibrahim Alaihissallam.

“(Ingatlah) ketika Rabb-nya berfirman kepadanya (Ibrahim), ‘Berserahdirilah!’ Dia menjawab: ‘Aku berserah diri kepada Rabb seluruh alam.’” [Al-Baqarah: 131]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” [Ali ‘Imran: 19]

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:

“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]

Menurut Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahulllah, definisi Islam adalah:“Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk dan patuh kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya.”

Kedua: Apabila kata Islam disebutkan bersamaan dengan kata iman, maka yang dimaksud Islam adalah perkataan dan amal-amal lahiriyah yang dengannya terjaga diri dan hartanya baik dia meyakini Islam atau tidak. Sedangkan kata iman berkaitan dengan amal hati.

Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

“Orang-orang Arab Badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” [Al-Hujuraat: 14]
2. Tingkatan Islam
Tidak diragukan lagi bahwa prinsip agama Islam yang wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap muslim ada tiga, yaitu; (1) mengenal Allah Azza wa Jalla, (2) mengenal agama Islam beserta dalil-dalilnya [4], dan (3) mengenal Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mengenal agama Islam adalah landasan yang kedua dari prinsip agama ini dan padanya terdapat tiga tingkatan, yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Setiap tingkatan mempunyai rukun sebagai berikut:

Tingkatan Pertama: Islam
Islam memiliki lima rukun, yaitu:
1. Bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah utusan Allah.
2. Menegakkan shalat.
3. Membayar zakat.
4. Puasa di bulan Ramadhan.
5. Menunaikan haji ke Baitullah bagi yang mampu menuju ke sana.

Kelima rukun Islam ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ;

“Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu menuju ke sana.”

Juga sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :

“Islam dibangun atas lima hal: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah.”

Tingkatan Kedua: Iman
Definisi iman menurut Ahlus Sunnah mencakup perkataan dan perbuatan, yaitu meyakini dengan hati, meng-ikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan, dapat bertambah dengan ketaatan dan dapat berkurang dengan sebab perbuatan dosa dan maksiyat.

Iman memiliki beberapa tingkatan, sebagaimana terdapat dalam sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang atau lebih dari enam puluh cabang, cabang yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaaha illallaah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (rintangan) dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang iman.”

Rukun Iman ada enam, yaitu:
1. Iman kepada Allah.
2. Iman kepada Malaikat-Malaikat-Nya.
3. Iman kepada Kitab-Kitab-Nya.
4. Iman kepada Rasul-Rasul-Nya.
5. Iman kepada hari Akhir.
6. Iman kepada takdir yang baik dan buruk.

Keenam rukun iman ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu dalam jawaban Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atas pertanyaan Malaikat Jibril Alaihissallam tentang iman, yaitu:
“Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan buruk.”
Tingkatan Ketiga: Ihsan
Ihsan memiliki satu rukun yaitu engkau beribadah kepada Allah Azza wa Jalla seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu dalam kisah jawaban Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Jibril Alaihissallam ketika ia bertanya tentang ihsan, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka bila engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.”
Tidak ragu lagi, bahwa makna ihsan secara bahasa adalah memperbaiki amal dan menekuninya, serta mengikhlaskannya. Sedangkan menurut syari’at, pengertian ihsan sebagaimana penjelasan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam :

“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.”

Maksudnya, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan ihsan dengan memperbaiki lahir dan batin, serta menghadirkan kedekatan Allah Azza wa Jalla, yaitu bahwasanya seakan-akan Allah berada di hadapannya dan ia melihat-Nya, dan hal itu akan mengandung konsekuensi rasa takut, cemas, juga pengagungan kepada Allah Azza wa Jalla, serta mengikhlaskan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan memperbaikinya dan mencurahkan segenap kemampuan untuk melengkapi dan menyempurnakannya.


Sumber:http://sunnahismylife.blogspot.com/2012/04/apa-itu-islam.html

Beberapa Karakteristik Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah


Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sesungguhnya orang yang mau berfikir obyektif, jika ia mau melakukan perbandingan antara berbagai keyakinan yang ada di antara umat manusia saat ini, niscaya ia menemukan beberapa karakteristik dan ciri-ciri dari ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang merupakan ‘aqidah Islamiyah yang haq (benar) berbeda dengan lainnya.

Karakter Dan Ciri-Ciri Itu Diantaranya:

[1]. Keotentikan Sumbernya.

Hal ini karena ‘aqidah Ahlus Sunnah semata-mata hanya bersandarkan kepada al-Qur-an, hadits dan ijma’ para ulama Salaf serta penjelasan dari mereka. Ciri ini tidak terdapat pada aliran-aliran Mutakalimin, ahli bid’ah dan kaum Sufi yang selalu bersandar kepada akal dan pemikiran atau kepada kasyaf, ilham, wujud dan sumber-sumber lain yang berasal dari manusia yang lemah. Mereka jadikan hal tersebut sebagai patokan atau sandaran di dalam masalah-masalah yang ghaib. Padahal ‘aqidah itu semuanya ghaib.

Sedangkan Ahlus Sunnah selalu berpegang teguh kepada al-Qur-an dan Hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Ijma’ Salafush Shalih dan penjelasan-penjelasan dari mereka. Jadi, ‘aqidah apa saja yang bersumber dari selain al-Qur-an, hadits, ijma’ Salaf dan penjelasan mereka itu, maka adalah termasuk kesesatan dan kebid’ahan.[1].

[2]. Berpegang Teguh Kepada Prinsip Berserah Diri Kepada Allah Dan Kepada Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam

Sebab ‘aqidah adalah masalah yang ghaib, dan hal yang ghaib itu hanya tegak dan bersandar kepada kepasrahan (taslim) dan keyakinan sepenuhnya (mutlak) kepada Allah (dan Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam). Maksudnya, hal tersebut adalah apa yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya (wajib diterima dan diyakini sepenuhnya. Taslim merupakan ciri dan sifat kaum beriman yang karenanya mereka dipuji oleh Allah, seraya berfirman:

"Artinya : Alif Laam Mim. Kitab al-Qur'an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka beriman kepada yang ghaib..."[Al-Baqarah: 1-3]

Perkara ghaib itu tidak dapat diketahui atau dijangkau oleh akal, maka oleh karena itu Ahlus Sunnah membatasi diri di dalam masalah ‘aqidah kepada berita dan wahyu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sangat berbeda dengan Ahli bid’ah dan Ahli Kalam (mutakalimin). Mereka memahami masalah yang ghaib itu dengan berbagai dugaan. Tidak mungkin mereka mengetahui masalah-masalah ghaib. Mereka tidak melapangkan akalnya [2]. dengan taslim, berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak pula menyelamatkan ‘aqidah mereka dengan ittiba’ dan mereka tidak membiarkan kaum Muslimin awam berada pada fitrah yang telah Allah fitrahkan kepada mereka.[3]

[3]. Sejalan Dengan Fitrah Yang Suci Dan Akal Yang Sehat.

Hal itu karena ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jam’ah berdiri di atas prinsip ittiba’ (mengikuti), iqtidha’ (meneladani) dan berpedoman kepada petunjuk Allah, bimbingan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ‘aqidah generasi terdahulu (Salaful Ummah). ‘Aqidah Ahlus Sunnah bersumber dari sumber fitrah yang suci dan akal yang sehat itu sendiri serta pedoman yang lurus. Betapa sejuknya sumber rujukan ini. Sedangkan ‘aqidah dan keyakinan golongan yang lain itu hanya berupa khayalan dan dugaan-dugaan yang membutakan fitrah dan membingungkan akal belaka.[4].

[4]. Mata Rantai Sanadnya Sampai Kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Para Shahabatnya Dan Para Tabi’in Serta Para Imam Yang Mendapatkan Petunjuk

Tidak ada satu dasar pun dari dasar-dasar ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang tidak mempunyai dasar atau sanad atas qudwah (contoh) dari para Shahabat, Tabi’in dan para Imam yang mendapatkan petunjuk hingga Hari Kiamat. Hal ini sangat berbeda dengan ‘aqidah kaum mubtadi‘ah (ahli bid’ah) yang menyalahi kaum Salaf di dalam ber‘aqidah. ‘aqidah mereka merupakan hal yang baru (bid’ah) tidak mempunyai sandaran dari al-Qur'an dan as-sunnah, ataupun dari para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Tabi’in. Oleh karena itu, maka mereka berpegang kepada kebid’ahan sedangkan setiap bid’ah adalah kesesatan.[5]

[5]. Jelas Dan Gamblang.

‘Aqidah Ahlus Sunnah mempunyai ciri khas yaitu gamblang dan jelas, bebas dari kontradiksi dan ketidakjelasan, jauh dari filsafat dan kerumitan kata dan maknanya, karena ‘aqidah Ahlus Sunnah bersumber dari firman Allah yang sangat jelas yang tidak datang kepadanya kebatilan (kepalsuan) baik dari depan maupun dari belakang, dan bersumber dari sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya. Sedangkan ‘aqidah dan keyakinan yang lainnya berasal dari ramuan yang dibuat oleh manusia atau ta’wil dan tahrif mereka terhadap teks-teks syar’i. Sungguh sangat jauh perbedaan sumber dari ‘aqidah Ahlus Sunnah dan kelompok yang lainnya. ‘Aqidah Ahlus Sunnah adalah tauqifiyah (berdasarkan dalil/nash) dan bersifat ghaib, tidak ada pintu bagi ijtihad sebagaimana yang telah dimaklumi.[6]

[6]. Bebas Dari Kerancuan, Kontradiksi Dan Kesamaran.

‘Aqidah Islam yang murni ini tidak ada kerancuan padanya, tidak pula kontradiksi dan kesamaran. Hal itu karena ‘aqidah tersebut bersumber dari wahyu, kekuatan hubungan para penganutnya dengan Allah, realisasi ubudiyah (penghambaan) hanya kepada-Nya semata, penuh tawakkal kepada-Nya semata, kekokohan keyakinan mereka terhadap al-haq (kebenaran) yang mereka miliki. Orang yang meyakini ‘aqidah Salaf tidak akan ada kebingungan, kecemasan, keraguan dan syubhat di dalam beragama. Berbeda halnya dengan para ahli bid’ah, tujuan dan sasaran mereka tidak pernah lepas dari penyakit bingung, cemas, ragu, rancu dan mengikuti kesamaran.

Sebagai contoh yang sangat jelas sekali adalah keraguan, kegoncangan dan penyesalan yang terjadi pada para tokoh terkemuka mutakallimin (ahlu kalam), tokoh filosof dan para tokoh sufi sebagai akibat dari sikap mereka menjauhi ‘aqidah Salaf. Dan kembalinya sebagian mereka kepada taslim dan pengakuan terhadap ‘aqidah Salaf, terutama ketika usia mereka sudah lanjut atau mereka meng-hadapi kematian, sebagaimana yang terjadi pada Imam Abul Hasan al-Asy’ari (wafat th. 324 H). Beliau telah merujuk kembali kepada ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (‘aqidah Salaf) sebagaimana dinyatakan di dalam kitabnya, al-Ibanah ‘an Ushuliddiyanah, setelah sebelumnya menganut ‘aqidah mu’tazilah, kemudian talfiq (paduan antara ‘aqidah mu’tazilah dan ‘aqidah Salaf) dan akhirnya kembali kepada ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hal serupa juga dilakukan oleh Imam al-Baqillani (wafat th. 403 H) sebagaimana dinyatakan dalam kitab at-Tamhid, dan masih banyak lagi tokoh terkemuka lainnya. [7]

[7]. ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Merupakan Faktor Utama Bagi Kemenangan Dan Kebahagian Abadi Di Dunia Dan Akhirat.

‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan faktor utama bagi terealisasinya kesuksesan, kemenangan dan keteguhan bagi siapa saja yang menganutnya dan menyerukannya kepada umat manusia dengan penuh ketulusan, kesungguhan dan kesabaran. Golongan yang berpegang teguh kepada ‘aqidah ini yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang diberikan kemenangan dan pertolongan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

"Artinya : Akan tetap ada satu golongan dari umatku yang berdiri tegak di atas al-haq (kebenaran), tidak akan membahayakan bagi mereka siapa yang tidak menghiraukannya hingga datang perintah Allah (hari kiamat) tiba dan mereka tetap seperti itu. [8]

[8]. ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Adalah ‘Aqidah Yang Dapat Mempersatukan Umat.

‘Aqidah Ahlus Sunnah merupakan jalan yang paling baik untuk menyatukan kekuatan kaum Muslimin, kesatuan barisan mereka dan untuk memperbaiki apa-apa yang rusak dari urusan agama dan dunia. Hal ini dikarenakan ‘aqidah Ahlus Sunnah mampu mengembalikan mereka kepada al-Qur'an dan Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan jalannya kaum mu’minin yaitu jalannya para Shahabat. Keistimewaan ini tidak mungkin terealisasi pada suatu golongan mana pun, atau lembaga da’wah apapun atau organisasi apapun yang tidak menganut ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sejarah adalah saksi dari kenyataan ini! Hanya negara-negara yang berpegang teguh kepada ‘aqidah Ahlus Sunnah sajalah yang dapat menyatukan kekuatan kaum Muslimin yang berserakan, hanya dengan ‘aqidah Salaf maka jihad serta amar ma’ruf dan nahi munkar itu tegak dan tercapailah kemuliaan Islam.[9]

[9]. Utuh, Kokoh Dan Tetap Langgeng Sepanjang Masa.

‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah utuh dan sama dalam masalah prinsipil (ushuludin) sepanjang masa dan akan tetap seperti itu hingga hari Kiamat kelak. Artinya ‘aqidah Ahlus Sunnah selalu sama, utuh dan terpelihara baik secara riwayat maupun keilmuannya, kata-kata, maupun maknanya. Ia diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya tanpa mengalami perubahan, pencampuradukan, kerancuan dan tidak mengalami penambahan maupun pengurangan. Hal tersebut karena ‘aqidah Ahlus Sunnah bersumber dari al-Qur'an yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakang dan dari Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak pernah berbicara dengan hawa nafsu. [10]


[10]. Allah Menjamin Kehidupan Yang Mulia Bagi Orang Yang Menetapi ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Berada dalam naungan ‘aqidah Ahlus Sunnah akan menyebabkan rasa aman dan kehidupan yang mulia. Hal ini karena ‘aqidah Ahlus Sunnah senantiasa menjaga keimanan kepada Allah dan mengandung kewajiban untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang berhak diibadahi dengan benar. Orang yang beriman dan bertauhid akan mendapatkan rasa aman, kebaikan, kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasa aman senantiasa menyertai keimanan, apabila keimanan itu hilang maka hilang pula rasa aman.

Firman Allah:

"Artinya : Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Al-An’aam: 82].

Orang yang bertaqwa dan beriman akan mendapatkan rasa aman yang sempurna dan petunjuk yang sempurna di dunia dan akhirat. Adapun orang yang berbuat syirik, bid’ah dan maksiyat mereka adalah orang yang selalu diliputi dengan rasa takut, was-was, tidak tenang dan tidak ada rasa aman. Mereka selalu diancam dengan berbagai hukuman dan siksaan pada setiap waktu.


Sumber: http://sunnahismylife.blogspot.com/2012/06/beberapa-karakteristik-aqidah-ahlus.html